![]() |
| logo RcB |
Trashic,
merupakan akronim dari kata Trash and Music awalnya adalah sebuah event
perlombaan yang diselenggarakan oleh School of Universe yang berlokasi di
Parung Bogor. Berbicara mengenai Trashic, ada sebuah hal yang menggelitik saya selama
ini. In my beloved school SMART Ekselensia Indonesia (sok English) istilah Trashic telah digunakan untuk mengeneralisasi musik yang instrumennya
berasal dari “barang bekas”. Padahal
menurut Jaya salah satu pentolan personil The Rombenkz (SoU), Trashic adalah
nama sebuah event perlombaan di School of Universe yang notabene sekolahnya.
Tapi di SMART Ekselensia Indonesia, istilah Trashic menjadi sama derajatnya
dengan istilah Aqua untuk minuman mineral, atau Autan untuk lotion anti nyamuk
(sorry, karena udah pernah bego). Oke, karena Trashic didominasi
oleh alat musik pukul (perkusi) dari barang bekas untuk selanjutnya kita sebut
aja Mawar, eh…. sorry, Trash Percussion.
Let’s
begin our story, pada quartal akhir tahun 2006 (seingat saya, karena saat itu saya
masih menjadi pendamping kamar untuk angkatan ketiga di kamar Hamka lantai 4) our
beloved father Mr. Amru Asykari mengumpulkan tujuh orang anak angkatan kedua
(SenSEI) yang tergabung dalam grup Nasyid SMART Ekselensia Indonesia (hah? Dulu
SMART punya grup nasyid? punya dong!!) yaitu Malik Ibrahim “Bontang” (gitaris),
Rifqi Hutriawan “Mataram” (gendang), Fadyan Hilman “Singaraja-Bali” (vocalist/keyboardist),
Igil Putra “Padang” (vocalist), Floren Wahyu Purwanto “Bontang” (vocalist),
Imam Hadi “Medan” (vocalist) dan saya sendiri Agung Febriyan Rachmat “Singaraja-Bali”
(vocalist). Kita bertujuh mendapat tawaran dari Mr. Amru Asykari untuk mencoba
mengikuti lomba Trashic yang pertama kalinya diselenggarakan oleh School of
Universe. Oke, mulai dari sini kita akan memasuki kisah yang mungkin agak
sedikit konyol yang belum banyak orang tahu.
Karena
minimnya waktu latihan (pada saat itu kami mulai dari nol hanya dalam waktu
kurang dari seminggu istilahnya “dadakan”) dan minimnya pengetahuan tentang
Trash Percussion ini membuat kami memutar otak. Seperti biasa syarat perlombaan
Trashic I pun sama dengan Trashic II, dan Trashic III yaitu mewajibkan kami untuk mengaransemen satu lagu daerah dan satu lagu pilihan. Well, saat itu entah
bagaimana kami memutuskan untuk mengaransemen lagu “Ampar-Ampar Pisang”. Kami belum pernah sama sekali melihat atau menonton perform dari grup Trash
Percussion manapun, jadi kami kebingungan bagaimana caranya agar lantunan melodi
do-re-mi-fa-sol dapat tercipta. Fadyan Hilman yang terbiasa memainkan keyboard
saat nasyid mencari alternatif botol berisi air dengan volume berbeda (ini kita
belum tahu loh ya kalo nanti bakalan banyak yang pakai botol juga saat perlombaan,
hahaha). Pada saat itu, hal yang membuat persiapan/latihan menjadi lama adalah mengkalibrasi
volume air dalam botol agar mengeluarkan bunyi yang sama dengan lantunan melodi
do-re-mi-fa-sol (itu dulu, kalo sekarang Fadyan bersin aja udah terkalibrasi
tuh botol).
![]() |
| Let's play RcB Anthem |
H-1
hari perlombaan aransemen lagu Ampar-Ampar Pisang jadi seadanya dan kami hampir
tak ada waktu untuk mengaransemen lagu berikutnya. Oke, akhirnya hari H pun
tiba tapi bagaimana dengan lagu pilihannya? Tenang, kami udah sedikit latihan
kok kemarin untuk lagu pilihannya. Kami berangkat ke School of Universe
ditemani oleh Mr. Amru Asykari dan menyusul dua orang dari angkatan pertama
(Expert) sebagai tim publikasi yang datangnya sedikit terlambat (setelah kita
tampil). Oh, iya pada saat itu kami belum memakai nama The Oupheels, The
Jigong, The Daki dsb., jadi kami hanya dipanggil dengan nama SMART Ekselensia
Indonesia. Bisa dibilang kami sebagai Founding Father, Kakek Moyangnya Trashi….
Eh, Trash Percussion di SMART Ekselensia Indonesia. Kata Mr. Amru Asykari kita
ini mengikuti perlombaan Trashic untuk pertama kalinya jadi kita harus lepas
aja saat tampil, gak usah mikir masuk final apalagi sampe juara dulu yang
penting totalitas. Nothing to lose lah pokoknya.
Aseeek.
Kami bawain lagu Ampar-Ampar Pisang dengan cukup memuaskan kalo dilihat dari sisi
pemula yang baru beberapa hari lalu tahu Trash Percussion sampai akhirnya
giliran lagu pilihan pun tiba. Fadyan yang awalnya ada di barisan botol kini
meninggalkan botol-botolnya dan mengambil salah satu stand mic yang ada. Loh…? Kalian
bisa menebak apa yang selanjutnya kami lakukan. Yup! Kami nge-band Fadyan jadi
vocalist-nya. Kami membawakan lagu yang cukup terkenal di tahun 2006, Radja –
Bulan. Seketika itu tawa penonton dengan nada mengejek mengiringi penampilan
kami. Bisa dibilang penampilan kami terdengar seperti sekelompok bocah yang
ingin membangunkan orang sahur karena tak adanya lantunan melodi botol (la wong
kebanyakan suara galonnya dan suara seng pelindung lampu neon). Alhasil, jangankan
masuk babak final kami malah tersingkir di babak penyisihan, tapi
ketidakpunyaan rasa malu kami lebih juara daripada peserta lain. Di akhir acara
ada pemberitahuan tentang Trashic II yang akan diadakan tahun depan. Ok, The
Oupheels will be back soon.
Belajar
dari pengalaman Trashic I tahun 2006, tahun berikutnya kami gak boleh biarin
orang-orang ngetawain kami lagi. Trashic II akan berlangsung di quartal ketiga
tahun 2007 tepatnya pada bulan Agustus. Di bulan Juni tahun 2007, pada saat
libur semester kami bertujuh berkumpul kembali mendiskusikan sebuah nama untuk
kelompok kami. Terinspirasi dari kata sampah/kotoran, kami memikirkan nama
kelompok yang anti-mainstream, unik, dan mudah diingat “The Oupheels” yang
diambil dari kata Upil (kotoran hidung). Kami memilih The Oupheels karena terdengar
lebih bagus dan relevan daripada kandidat nama lainnya yaitu “The Tujuh Jahanam”
(apa-apaan nama yang mengandung nama neraka ini!?). Untuk event Trashic II ini
SMART Ekselensia Indonesia sendiri mengirim dua wakilnya yaitu The Oupheels
(angkatan II) dan The Wronk Gank (angkatan I). Kali ini kami sudah
mempersiapkan lagu dari jauh-jauh hari, jadi waktu berlatih lumayan panjang
kurang lebih sekitar 1 bulan.
![]() |
| We are Recycle Bin Percussion |
Di
hari pembalasan (maksudnya hari H Trashic II, bukan padang mahsyar ya) kami didampingi oleh dua orang super yaitu Mr. Amru Asykari dan the one and only,
Mr. Ahmad Sucipto. Dengan tekad api yang diwariskan turun temurun oleh Hokage
(plak!!) kami mencoba mendobrak pintu baja yang dibangun oleh School of
Universe. Kami mencoba bangkit dari kegagalan musim lalu dengan merekrut
Christiano Ronaldo di bursa transfer (becanda aja nih author). Seluruh perwakilan
dari SMART Ekselensia Indonesia bertanding dengan 100% kemampuannya. Hari
pertama berakhir dengan pengumuman lima tim terbaik yang berhasil memasuki
babak final. Dimulai dengan The Oupheels yang berhasil menempati posisi kelima.
Kami bersyukur dapat masuk di lima besar terbaik untuk bertanding di final.
Pada saat itu, tak disangka The Wronk Gank (the real predator yang baru
terbentuk) berhasil menempati urutan ketiga yang bisa dikatakan sebagai the best
newcomer karena empat tim lainnya sudah mengikuti ajang ini (Trashic I) tahun lalu.
Seperti biasa urutan teratas diisi oleh kandidat juara mainstream dari tahun
lalu, Master School Percussion (peringkat II) dan The Rombenkz (peringkat I).
Di hari kedua (final day), The Oupheels
memakai konsep yang tak biasa dari hari sebelumnya, yup! dance performance. Pada hari ini Fadyan yang biasanya duduk menghadap
botol kini naik dan berdiri di atas meja dan melangkahi botol (susunan botol
ada di bawah, antara kedua kakinya, Fadyan membungkuk ke bawah untuk memukul
botol). Malik tetap duduk pada posisinya sambil memukul ember. Floren dan Rifqi
berdiri saling berhadapan memukul benda logam (panci dsb.), Imam Hadi, Igil,
dan saya sendiri memakai galon yang diikat menyerupai tas gendong berbaris
bertiga dengan susunan saya (depan), Imam Hadi (tengah), Igil (belakang). Barisan
ketiga orang ini dapat dikatakan sebagai pusat atraksi karena kami akan
berjalan layaknya ular mengelilingi performer stand. Igil yang ada di paling
belakang akan memukul galon yang dibawa Imam Hadi seperti tas gendong, dan Imam
Hadi akan memukul galon yang saya bawa, dan saya memukulkan kedua stik yang
saya bawa. Kami akan bergantian memutar badan ke belakang untuk melanjutkan
pukulan seperti sebelumnya. Penampilan kami pecah!! Tawaan tahun sebelumnya
disambut dengan tepuk tangan meriah dari penonton.
![]() |
| jadi guest star di acara sendiri, SMART EXPO 2009 |
Perlombaan ditutup dengan merangkaknya kami ke
posisi tiga meninggalkan utusan SMART Ekselensia Indonesia lainnya. The
Oupheels berhasil meraih juara ke III pada festival Trashic II. Hal ini
berimbas pada tawaran manggung The Oupheels di event-event Ramadhan pada tahun
2007 yang diawali dengan penampilan perdana di Ekalokasari Mall. Selanjutnya banyak
pusat perbelanjaan yang mengadakan event serupa yang kami sambangi sebagai
guest star. The Oupheels juga pernah tampil di berbagai event yang diadakan di Universitas
Indonesia, JCC, Hotel Saripan Pasific, Menara Indosat, Menara BNI, Pertamina
Pusat, JakTV, Gong Show, Museum Gajah, hingga tampil di depan RI-1 bapak Susilo Bambang
Yudhoyono di tahun 2009.
Bagaimana?
Kita beranjak ke tahun 2008? Tahun ini The Oupheels mencoba mengikuti ajang adu
bakat Gong Show di salah satu stasiun tv yang tak boleh dicantumkan namanya,
sebut saja Trans7. Ini pengalaman pertama kami tapping di stasiun tv. Tapping
dilakukan 2 episode sekaligus dimana The Oupheels mendapatkan jatah tapping kedua
(bukan episode kedua Gong Show loh ya, tapi episode kedua tapping). Pada tapping
pertama, kami terkesan dengan salah satu kontestan yang menampilkan tema yang
sama yaitu musik barang bekas. Grup asal Bandung yang bernama Perkausa (hasil parodi
dari istilah Perkusi) ini sukses membuat mata kami berbinar. Pasalnya mereka
memberikan penampilan atraktif, bermain perkusi dipadukan dengan dance ala
mereka (jadi mereka main perkusinya itu gak diem di tempat tapi sambil jalan
& joget karena alat musiknya nempel di badan mereka seperti Marching Band)
tak heran mereka menjuarai tapping pertama. Pada tapping kedua, lawan kami bisa
dikatakan berat di antaranya Modern Dance, Beatboxer dan kecil kemungkinan ada
kontestan dengan tema yang sama menjuarai
Gong Show dua episode berturut. Alhasil, The Oupheels belum beruntung
menjuarai Gong Show. Tapi yang terpenting adalah….. masuk tv. Hahaha….
Di
pertengahan tahun 2008, tepatnya setelah kekalahan di Gong Show, The Oupheels
mencari nuansa baru dengan mengganti namanya menjadi Recycle Bin Percussion lewat
pertimbangan komisi I DPR (becanda). Didominasi dengan warna Hitam dan Merah (warna
akatsuki) kami mulai mengaransemen musik
kami sendiri, maka terciptalah Recycle Bin Percussion anthem
(terinspirasi dari Perkausa anthem). Recycle Bin Percussion anthem dengan penuh
atraksi (alat musik yang dibawa dan dimainkan tanpa stand + sambil berjoget) perdana
ditampilkan pada salah satu acara Kementerian Pemuda dan Olahraga di Museum
Gajah. Rencananya kami akan menampilkan Recycle Bin Percussion yang bernuansa
baru pada event Trashic III tapi ternyata Trashic III dipending untuk waktu
yang belum ditentukan (ujung-ujungnya Trashic III diulur sampai tahun 2009,
setelah angkatan kedua ber-katarsis ria bersama Coach Kokom *psikolog bukan
pelatih musik).
![]() |
| kiri ke kanan: Malik, Rifqi, Saya, Imam, Fadyan, Floren, Igil |
Pada
Ramadhan tahun 2008, kami berkesempatan memberi pelajaran bermusik barang bekas
pada anak-anak pegawai Unilever Pusat yang akan dipentaskan di depan Ibu
Mufidah Yusuf Kalla. Oke, ini adalah tantangan berat bagi anggota Recycle Bin
dimana kami harus mengajar anak-anak yang mayoritas SD yang belum mempunyai
sense bermusik dalam waktu dua minggu untuk tampil di depan Ibu RI-2. Kami
bukan Gilang Ramadhan atau Titi Sjuman yang memiliki banyak sekolah perkusi,
melainkan hanya tujuh anak SMA yang baru melewati masa puber. Tapi saya tidak
akan menceritakan panjang lebar bagaimana cara Recycle Bin mengajarkan
anak-anak ini hingga sukses membuat decak kagum Ibu Mufidah. Seperti tahun
sebelumnya, Ramadhan kali ini pun banyak tawaran manggung di mall dan acara Ramadhan
lainnya.
![]() |
| anak RcB diketekin Luna Maya (udah tinggi pakai high heels) |
Di
awal tahun 2009, Recycle Bin (RcB) bersama Luna Maya didapuk menjadi guest star
pada peresmian salah satu kegiatan yang diselenggarakan di Grand Indonesia Mall.
Pada quartal kedua tahun 2009, RcB berkesempatan tampil pada acara Kementerian
Lingkungan Hidup yang diadakan di Monas dan dihadiri langsung oleh RI-1 kala
itu, Bapak Susilo Bambang Yudhoyono. Suatu kehormatan dan kebanggaan tersendiri
bagi kami, Recycle Bin Percussion bisa tampil di depan beliau. Inilah momen besar
yang menandai akhir penampilan Recycle Bin dengan tujuh orang personil.
Pertengahan 2009, Adi Nugroho mengumumkan (ngapa ada Adi Nugroho segala) Igil Putra
yang berasal dari Padang harus tereliminasi dan pulang ke kampung halamannya,
hiks… hiks…. hiks…. Situasi ini sempat menimbulkan kekhawatiran akan posisi
kosong sepeninggal Igil Putra. Apakah kami harus merekrut personil baru
sedangkan bursa transfer belum sepenuhnya dibuka oleh UEFA? (abaikan kalimat
ini). Setelah melewati perundingan dengan kelima Kage akhirnya pihak World
Government, Tenryuubito, dan Marine sepakat tidak akan merekrut Shichibukai
baru sebagai pengganti Igil Putra. Pada akhirnya Recycle Bin terus berjalan
dengan beranggotakan enam personil.
![]() |
| Penampilan RcB di depan Presiden SBY pada Hari Lingkungan Hidup Nasional 2009 |
Trashic
III School of Universe diadakan pada 21-22 November 2009, SMART Ekselensia
Indonesia mengirimkan tiga wakilnya sekaligus yaitu Recycle Bin (angkatan II),
See n Dance (angkatan III), dan Amburadul (angkatan IV). Trashic III kali ini berbeda
dari Trashic terdahulu, karena memakai konsep/tema pada setiap kontestannya
(rupanya karena memikirkan dengan matang konsep perlombaan seperti ini yang
membuat Trashic III terpending selama setahun oleh panitia). Dari hasil undian,
Recycle Bin mendapatkan tema langit dan itu membuat seluruh personil kembali
memutar otak untuk mendapatkan hasil yang sempurna. Ok, kami memilih konsep
dewa/malaikat dalam mitologi Yunani yang memakai pakaian putih dengan rambut
berwarna coklat kekuningan (blonde). Beruntung kami mendapat pinjaman pakaian
ihram dari pihak sekolah (sekali lagi Recycle Bin merubah warna tim yang
awalnya identik dengan hitam dan merah, menjadi putih dan kuning keemasan).
Untuk membuat atraksi sepecah mungkin, kami memutuskan memakai konsep theatrical
dengan membuat satu maskot Zeus “Nuryanto” (tugasnya gak ngapa-ngapain sih, cuma
teriak nyuruh RcB mainin musik dari pojokan). Di sinilah Recycle Bin Percussion
anthem meledak dengan enam personil. Banyak yang beranggapan bahwa musikalitas
Recycle Bin akan menurun sepeninggal Igil Putra. Anggapan ini terpatahkan
dengan gelar juara II yang didapat oleh Recycle Bin di ajang Trashic III School
of Universe. Recycle Bin sekali lagi membuktikan kredibilitasnya di dunia Musik
Barang Bekas tingkat pelajar Se-Jabodetabek.
![]() |
| logo terakhir: RcB White & Gold |
Tampil
pada Trashic III School of Universe merupakan penampilan terakhir Recycle Bin. Kami
tutup masa bermusik barang bekas kami dengan prestasi terbaik kami. Cukup ada sedikit
penyesalan karena belum bisa memberikan juara I di ajang yang sama untuk SMART
Ekselensia Indonesia. Tapi masa berjuang Recycle Bin dari nol, dari yang ditertawakan
penonton sampai yang berhasil tampil di depan RI-1 akan tetap indah untuk
dikenang.
~The
true story of Trash Percussion’s founding father in SMART Ekselensia Indonesia~







